Nabi Musa Hijrah ke Madyan

Posted: September 26, 2010 in Uncategorized

Ketika dewasa, Musa (belum diangkat menjadi nabi) tidak sengaja membunuh seorang penduduk asli Mesir yang berkelahi dengan seorang Bani Israil. Karena takut pada Fir’aun yang murka, Musa lari keluar Mesir dan sampai di negeri Madyan. Di sana beliau bertemu dengan puteri-puteri Nabi Syu’aib as. yang sedang kesulitan memberi minum ternaknya. Beliau menolong mereka dengan mengangkat batu penutup sumur yang hanya bisa diangkat sepuluh laki-laki. Beliau adalah seorang yang bertubuh tegap dan bertenaga sangat kuat. Akhirnya beliau dipanggil oleh Nabi Syu’aib dan menumpang hidup dengan bekerja pada Nabi Syua’ib. Kemudian Musa dinikahkan dengan puteri Nabi Syu’aib.

Setelah 10 atau 20 tahun bersama dengan Nabi Syu’aib, Musa kemudian diizinkan pergi bersama keluarganya. Mertuanya membekali beliau dengan beberapa ekor kambing untuk diternakkan. Musa dan keluarganya pun melakukan perjalanan. Suatu malam yang gelap gulita, mereka tidak dapat melihat jalan dengan baik. Musa mencoba membuat api, tapi aneh, api tidak mau menyala. Tiba-tiba beliau melihat cahaya api di Gunung Thursina. Beliau menyuruh keluarganya menunggu di situ dan beliau sendiri mendatangi sumber api tersebut.

Lahirnya Nabi Musa as.

Posted: September 26, 2010 in Uncategorized

Nasab: Musa bin Imran bin Qahits bin Azir bin Lawi bin Ya’qub as. Menjelang kelahiran Nabi Musa as., Fir’aun mendapat mimpi adanya nyala api yang besar dari arah Baitul Maqdis yang menyambar Mesir. Tapi yang terkena hanya penduduk asli Mesir. Bani Israil tidak ada seorang pun yang kena. Fir’aun meminta pendapat para ahli sihir dan ahli nujum, yaitu para penasehat dekatnya. Mereka berkata, akan segera lahir seorang anak lelaki di kalangan Bani Israil yang akan meruntuhkan kerajaan Fir’aun. Hal ini sesuai dengan berita yang berkembang di kalangan Bani Israil dari beberapa nabi mereka bahwa tak lama lagi akan datang seorang rasul yang akan membebaskan mereka.

Fir’aun murka dan memerintahkan agar seluruh anak lelaki Bani Israil yang lahir langsung dibunuh. Terjadilah pembantaian bayi-bayi Bani Israil di Mesir. Tetapi ALLAH-lah yang menjaga Nabi Musa as. Setelah beliau lahir, ibunya mendapat ilham dari ALLAH bahwa bayi tersebut mesti diletakkan dalam sebuah keranjang dan dihanyutkan di Sungai Nil supaya selamat. Ibu Nabi Musa tahu jika hal tersebut sangat berbahaya bagi anaknya. Tetapi ilham itu sangat mendesak hatinya sehingga akhirnya beliau melakukan hal yang nampak mustahil tersebut. Tetapi demikianlah ALLAH menjaga hamba pilihan-Nya. Keranjang berisi bayi Musa tersebut bukannya tenggelam, malah hanyut menuju istana Fir’aun dan –seperti yang telah ditakdirkan ALLAH– jatuh ke tangan istri Fir’aun: Asiyah. Asiyah langsung menyukai bayi itu dan mencegah Fir’aun membunuhnya. Fir’aun yang sangat teliti tentu tahu bahwa bayi laki-laki itu adalah keturunan Bani Israil. Tetapi dia menuruti istrinya dan memelihara Musa hingga dewasa. ALLAH juga mengatur bahwa Musa hanya mau menyusu pada ibunya sendiri sehingga seluruh keluarganya pun diboyong juga ke istana sebagai pengasuh Musa. Beberapa keajaiban terjadi pada bayi Musa sehingga jiwanya selalu selamat dari pembunuhan. Hal ini menunjukkan Nabi Musa dijaga keselamatannya oleh ALLAH.

Hijrahnya Nabi Ibrahim

Posted: September 26, 2010 in Uncategorized

Bermula dengan hijrahnya Nabi Ibrahim as. dari kampung halamannya di kota Ur (tepi sungai Eufrat, selatan Irak), ke arah barat laut yaitu kota Babil, terus menuju Haran di Syria. Nabi Ibrahim hijrah untuk mempertahankan imannya pada ALLAH, satu-satunya Tuhan, satu-satunya sesembahan yang layak bagi manusia. Sebelum dan selama masa hijrahnya, beliau dan para pengikutnya terus mandapat cobaan, dikejar dan dianiaya oleh raja Namrud, penguasa saat itu.

Dari Haran, hijrah Nabi Ibrahim berlanjut ke tanah Kan’an, terus ke barat daya, melintasi gurun Sinai dan akhirnya tiba di Mesir. Di Mesir lagi-lagi Nabi Ibrahim as. dan istrinya, Sarah, mendapat cobaan. Hampir saja Sarah diambil oleh penguasa Mesir saat itu, akan tetapi ALLAH menyelamatkan beliau. Bukannya istrinya diambil, karena kagum akan akhlak dan kecerdikan Nabi Ibrahim, penguasa Mesir justru menghadiahkan salah satu anaknya yang tercantik, Hajar, untuk menjadi pelayan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim kemudian memperistrinya.

Nabi Ibrahim dan Ismail

Posted: September 26, 2010 in Uncategorized

Dari perkawinan nabi Ibrahim dan Hajar lahirlah Ismail. Segera setelah Ismail lahir, Nabi Ibrahim atas perintah ALLAH membawa Hajar dan bayi Ismail ke tempat di mana sejarah manusia bermula, yaitu Bait ALLAH yang pertama, di lembah Bakkah, jauh di selatan negeri mereka. Di situlah letak Rumah ALLAH yang pertama kali didirikan di muka bumi. Di situlah tempat seluruh nabi yang terdahulu mengerjakan ibadah haji mereka, termasuk Adam, Idris, Nuh, Hud, dan Shalih dengan berjalan atau mengendarai unta-unta mereka.

Nabi Ibrahim menjumpai tempat tersebut yang kering berbatu-batu dan panas. Di situlah ditinggalkannya anak dan istrinya dengan hanya berharap dan ergantung pada rahmat ALLAH, Tuhan yang Maha Pemelihara hamba-hamba-Nya. Maka pertolongan ALLAH pun turun melalui tendangan lemah bayi Ismail ehingga memancarlah mata air Zamzam yang hingga kini debit airnya mencukupi keperluan berjuta-juta orang. Hajar dan Ismail tetap tinggal di daerah tersebut.

Beberapa kali dalam setahun Nabi Ibrahim datang melihat keadaan anak istrinya. Ketika anaknya beranjak remaja, Nabi Ibrahim dan Ismail mendapat perintah ALLAH untuk membangun kembali Ka’bah sebagai rumah ALLAH. ALLAH memerintahkan malaikat turun untuk menunjukkan lokasi tepatnya di mana Bait ALLAH tersebut.

Di lembah Bakkah (yang kemudian jadi kota yang disebut Makkah) itu pulalah Nabi Ibrahim mendapat perintah ALLAH untuk menyembelih anaknya, Ismail. Kemudian, ALLAH dengan rahmat-Nya menggantikan Ismail yang akan disembelih itu dengan seekor domba untuk kurban Nabi Ibrahim pada Tuhannya. Ibadah Nabi Ibrahim ini dikekalkan ALLAH hingga kini.

Nabi Ismail beserta ibunya tetap tinggal di Makkah hingga kedatangan kabilah Jurhum (kabilah Arab kuno) ke daerah itu. Nabi Ismail berdakwah pada mereka dan menikahi perempuan dari kalangan Arab asli ini. Lahirlah anak keturunannya yang turun temurun menjadi penjaga Baitullah di Makkah.

Nabi Luth

Posted: September 26, 2010 in Uncategorized

Dalam rombongan hijrah Nabi Ibrahim turut serta keponakannya, Luth, yang kemudian diangkat pula oleh ALLAH menjadi rasul-Nya, dan ditugaskan menyampaikan risalah pada penduduk kota Sadum (Sodom). Kota Sadum terletak di tenggara Kan’an, tepat di tempat yang sekarang dinamakan Laut Mati.

Nabi Luth as., menyampaikan dakwahnya pada penduduk Sadum yang banyak berbuat zalim, yaitu berhubungan seksual sejenis, terutama lelaki dengan lelaki. Suatu kekejian yang belum pernah dilakukan oleh umat-umat sebelumnya sejak zaman Nabi Adam as., bapak seluruh manusia. Dakwah beliau hanya berhasil menyadarkan sedikit dari penduduk dua kota, yaitu kaum keluarganya. Penduduk yang lain tetap pada kekejiannya, hingga datanglah keputusan Tuhan.

Keputusan Tuhan datang dibawa oleh beberapa Malaikat. Sebelum pergi ke Sadum, mereka terlebih dahulu singgah ke tempat Nabi Ibrahim sambil membawakan berita gembira bahwa Sarah yang belum mempunyai anak akan segera hamil dan anaknya bernama Ishak dan dari Ishak akan lahir Ya’kub. Setelah menyampaikan berita tersebut, para Malaikat segera pergi ke kota Sadum untuk menjumpai Nabi Luth dan menyampaikan kabar bahwa siksaan ALLAH pada penduduk Sadum akan segera tiba dan memerintahkan Nabi Luth beserta keluarganya untuk meninggalkan kota tersebut pada tengah malam dan melarang mereka menoleh ke belakang. Istri Nabi Luth yang sebenarnya kafir dan berpihak pada kaumnya yang zalim melanggar perintah tersebut. Dia menoleh ke belakang dan ikut terkena azab.

Malaikat mengangkat tanah tempat kota itu berdiri, membawanya ke atas, membalikkannya dan menghempaskannya hingga amblas ke dalam bumi, kemudian menghujaninya dengan batu-batu yang terbakar. Saat ini tempat tersebut amblas menjadi daratan terendah di muka bumi, 400 m di bawah permukaan laut digenangi air, disebut Danau Luth atau populer dengan nama Laut Mati. Tidak ada tumbuhan atau hewan yang dapat hidup di situ.

Nabi Ibrahim mendapatkan Kan’an

Posted: September 26, 2010 in Uncategorized

Kembali pada Nabi Ibrahim as., dalam hijrahnya itu Nabi Ibrahim mendapat anugerah oleh ALLAH berupa tanah di wilayah Kan’an, suatu daerah di barat daya Haran, meliputi daerah di lembah sungai Jordan, suatu tempat berkat. Buminya sangat subur dan indah. Dikuasakan kepada Ibrahim dan keturunannya dengan syarat: mereka (keturunannya) tidak berbuat zalim (aniaya, baik pada Tuhan maupun pada manusia).

Dari Sarah, Nabi Ibrahim memperoleh anak yang dinamakan Ishak seperti perintah ALLAH. Ishak pun kemudian diangkat ALLAH menjadi rasul-Nya. Beliau menggantikan Nabi Ibrahim yang meninggal. Sebagian ulama berpendapat Nabi Ibrahim dimakamkan di Hebron, sebagian berpendapat beliau dimakamkan di Aleppo.

Nabi Ishak kemudian, seperti dijanjikan Malaikat, memperoleh anak yang dinamakan Ya’kub. Ya’kub pun diangkat oleh ALLAH menjadi Rasul-Nya dan bertugas meneruskan risalah kakeknya, Ibrahim as. Nabi Ya’kub inilah yang digelari “Israil” dan anak keturunannya disebut ALLAH sebagai “Bani Israil”.

Sebagai catatan, Nabi Ishak juga mempunyai anak (sulung) yang bernama Aishu (Essau). Beliau ini bertubuh tinggi tegap dan ahli berburu. Al Aish menikah dengan anak perempuan Nabi Ismail dan menurunkan bangsa Romawi dan Yunani.

Nabi Ya’kub

Posted: September 26, 2010 in Uncategorized

Wed, 2009-01-14 13:06 — admin

Nabi Ya’kub menikahi dua puteri pamannya, Laban, yang bernama Layya (Lea) dan Rahil (Rachel). Dari Layya Nabi Ya’kub memperoleh anak-anak: Rubail (Ruben), Syam’un (Simeon), Lawi (Lewi), Yahudza (Yahuda, dari nama inilah diambil nama Yahudi), Yasakhir, Zabilun dan Dina (satu-satunya perempuan). Dari Rahil Nabi Ya’kub memperoleh dua putera: Yusuf dan Bunyamin. Setelah melahirkan Bunyamin, Rahil wafat. Beliau juga memperistri budak istri-istrinya: Zulfa dan Balha. Dari Balha Nabi Ya’kub memperoleh Dan dan Naftali. Dari Zulfa beliau memperoleh Jaad dan Asyir. Jadi anak-anak beliau berjumlah 12 laki-laki dan 1 perempuan. Kedua belas anak lelaki inilah cikal bakal dua belas suku besar Bani Israil.