Apa Jadinya Afrika tanpa Sungai Nil

Posted: September 26, 2010 in Uncategorized

SEHARI menjelang Ramadan, saya sudah berada di Abu Simbel, sebuah kota perbatasan antara Mesir dan Sudan, Afrika. Kota kecil beraroma Mesir Kuno tersebut berjarak sekitar 1.200 km selatan Kairo. Itulah tempat saya start untuk bertafakur panjang selama bulan Ramadan 1431 H, dalam Jawa Pos Jelajah Sungai Nil, Sebuah Ekspedisi Spiritual. Saya bersama tim seperti akan memasuki sebuah ”lorong mimpi panjang” ke abad-abad silam.

Ide ekspedisi ini muncul ketika saya sudah tinggal di Kairo, Mesir, selama dua bulan ini. Saya benar-benar terperangah menyaksikan situs-situs sejarah bernilai tinggi yang bertebaran di sepanjang Sungai Nil. Sungai terpanjang di dunia yang menyimpan rekaman peristiwa, sejak zaman Mesir Kuno sampai zaman keemasan Islam. Adrenalin jurnalistik saya tiba-tiba berdesir.

”Mimpi” saya ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Dengan antusias, Mas Leak Kustiya, pemimpin redaksi Jawa Pos, mendukung. ”Oke, Mas Agus. Kami dukung sepenuhnya ide Anda,” ujar Mas Leak di seberang telepon.

Karena itu, saya pun segera menyusun rencana ekspedisi secepatnya. Ketika itu, Ramadan hanya tinggal sebulan. Sambil menyelesaikan buku serial ke-27 saya, Perlukah Negara Islam, yang terbit bulan lalu dan catatan-catatan mingguan yang saya tulis untuk Jawa Pos, saya menyempatkan diri mempelajari medan Sungai Nil secara cepat. Ternyata, bukan main eksotisnya! Tak salah jika saya menyusurinya.

Lima hari sebelum Ramadan, kami berempat berangkat naik mobil dari Kairo menuju Abu Simbel, tempat start saya. Saya dan istri -Anna Ratnawati- didampingi seorang pemandu jalan -Dadan S. Junaedy- dan seorang mahasiswa Al Azhar -Yovi Saddan- sengaja berangkat lebih awal. Itu memberikan kesempatan kepada kami untuk melakukan orientasi lapangan dengan baik. Kami menjadi tahu di mana harus menginap, berbuka puasa dan sahur, mengirim berita ke Jawa Pos via internet, dan sebagainya.

Inilah petualangan yang memadukan keterpesonaan menyusuri kemegahan sejarah masa lampau dengan keagungan karya Ilahi yang terhampar di sepanjang Sungai Nil. Saya berharap tafakur panjang ini mampu mengisi relung-relung jiwa kita selama ibadah Ramadan. Bulan yang penuh hikmah, di mana Allah menurunkan Alquran di dalamnya. Bulan membaca dan merenungi segala tanda-tanda kebesaran-Nya.

***

Nil adalah sungai ”kontroversial” terpanjang di dunia yang melintasi sembilan negara Afrika. Di mulai dari Ethiopia, Zaire, Kenya, Uganda, Tanzania, Rwanda, Burundi, Sudan, dan Mesir. Panjangnya lebih dari 6.650 km. Bahkan, jika ditambah sungai-sungai anakan di bagian hulu, bisa mencapai lebih dari 6.990 km. Hampir tujuh kali panjang Pulau Jawa.

Soal panjang Sungai Nil, di kalangan geologi terjadi perdebatan. Sebagian mengatakan Nil masih kalah panjang dibanding Sungai Amazon di Amerika Selatan yang panjangnya juga lebih dari 6.990 km. Tapi, sebagian lagi bersikukuh mengatakan Nil adalah sungai terpanjang di dunia. Jadi, betapa menariknya. Soal panjangnya saja sudah menjadi perdebatan, sehingga membuat saya semakin penasaran.

Sebenarnya, perbedaan pandangan itu cuma soal cara mengukur. Pada kenyataannya, memang belum ada kesepakatan dalam menentukan titik awal pengukurannya. Terutama di bagian hulu. Apakah anak-anak sungai yang menjadi sumber mata air ikut diukur ataukah tidak. Jika anakan sungai ikut dihitung, Sungai Nil memang terpanjang di dunia. Tapi, jika tidak, Sungai Amazon-lah pemenangnya.

Namun, semua itu tidak terlalu penting buat saya. Kalah menarik oleh profil Sungai Nil yang memang sangat memesona. Hulu sungai tersebut berada di danau terbesar di Afrika, Danau Victoria. Danau raksasa yang hampir-hampir pantas disebut ”laut air tawar”. Bayangkan, panjang danau itu sekitar 337 km dengan lebar 250 km. Hampir seluas Provinsi Jawa Timur. Kedalamannya rata-rata 40 meter. Danau itu menjadi wadah bagi air hujan dari kawasan pegunungan di sekelilingnya.

Saking luasnya, wilayah danau tersebut berada di tiga negara sekaligus, yakni di perbatasan Tanzania, Kenya, dan Uganda. Kawasan itu disebut dataran tinggi Plateau, Afrika Timur, yang menjadi sumber penghidupan tiga negara tersebut. Dari danau raksasa itulah mengalir Sungai Nil Putih yang melintas sampai ke Sudan.

Menariknya, sumber Sungai Nil tidak hanya berasal dari Danau Victoria, tapi juga dari Danau Tana di Ethiopia yang melahirkan Sungai Nil Biru. Lebih kecil dari Victoria, danau yang terletak di dataran tinggi Ethiopia itu berukuran 84 km x 66 km. Sungai Nil Biru dan Nil Putih kemudian bertemu dan menyatu di dekat Kota Khartoum, Sudan.

Dari situlah mengalir Sungai Nil yang melintas sampai ke negeri Firaun dan berakhir di Laut Mediterania, bagian paling utara Afrika. Sebuah hamparan laut yang sangat indah, yang menjadi pembatas negara Mesir dengan benua Eropa.

Sang Khalik sedang memamerkan ciptaan-Nya yang luar biasa kepada kita semua untuk menafakurinya. Sebuah aliran air yang demikian raksasa melintasi gurun pasir yang tandus dan menyengat panasnya. Allah Yang Maha Penyayang mengirimkan air untuk menghidupi makhluk-makhluk di sekitarnya. Menyuburkan tanah-tanah yang dilewatinya, sehingga hiduplah berbagai macam tetumbuhan yang menjadi sumber kehidupan manusia dan hewan. Lebih dari itu, aliran sungai tersebut kelak menjadi jalan transportasi, yang membuka peradaban zaman Mesir Kuno hingga kini.

Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya Benua Afrika tanpa aliran Sungai Nil. Sebab, di padang pasir, air hujan hanya turun 2-3 kali setahun! Berkat adanya Sungai Nil itulah, muncul ”jalur hijau” yang membelah Benua Afrika.

Di sepanjang lembah Nil itu pula penduduk Afrika mengonsentrasikan permukimannya. Luas permukiman tersebut hanya 10 persen di antara seluruh daratan Benua Hitam, sedangkan 90 persen lainnya berupa kawasan padang pasir tandus yang mengerikan untuk dihuni manusia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s